Mengenal Tiga Tokoh Penting Sastrawan Angkatan 45 - Halley Kawistoro

Latest

Blog Pribadi Sebagai Sarana Informasi mengenai Bahasa Indonesia Berupa Karya sastra Puisi Dan Cerita Pendek. Serta Berbagi Informasi dunia Pendidikan, Umum, kesehatan dan Berita.

02 April 2018

Mengenal Tiga Tokoh Penting Sastrawan Angkatan 45


Mengenal Tiga Tokoh Penting Sastrawan Angkatan 45

Salam hangat dan hormat,

Karya sastra memang tidak lekang di makan waktu. Pengarang karya sastra biasa disebut sastrawan yang berartik orang yang mencipta. Dalam pelajaran bahasa Indonesia banyak tokoh sastrawan yang menjadi tokoh penting/sebagai contoh lahirnya sastrawan baru. Ada pesan penting dalamkegiatan bersastra dalam dunia Pendidikan Indonesia.

Tokoh tokoh sastra dianggap memberi andil sebagai identitas, melahirkan karya yang menjadi rujukan bagi disiplin ilmu yang lainnya. Berdasarkan judul Tulisan Kali ini, Ada tiga tokoh yang akan saya sampaikan. Semoga bisa menjadi informasi bagi yang iingin mengenal para tokoh tersebut.

1. Charil anwar 
Tokoh penting pertama yang terkenal pada angkatan 45. Salah satu puisinya menjadi doa baginya “Aku, Ingin hidup seribu Tahun lagi” dalam puisi AKU. Pria kelahiran Medan pada tanggal 26 Juli 1922.  Ada tiga karya dari Chairl anwar yang telah menjadi buku, antara lain;
1. Deru Campur Debu (Kumpulan Puisi yang diterbitkan oleh Penerbit Pembangunan Tahun 1949)
2. Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus. ( Kumpulan puisi yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat Tahun 1949).
3. Tiga Menguak Takdir (Kumpulan Puisi Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, Yang diterbitkan Balai Pustaka Tahun 1950.
Namun sayang, Chairil Anwar tidak berumur panjang, Ia berpulang di usia yang masih sangat muda. Pada umur 27 Tahun tangga 28 April 1949. Saat ini tanggal tersebut diperingati sebagai BULAN BAHASA. Sebuah penghargaan besar atas kehadirannya di dunia sastra Indonessia.

2. Asrul Sani

Tokoh ini merupakan salah satu pelopor angkatan 45, Asrul Sani lahir di Sumatera Barat, 10 juni 1926. Ia merupakan anak kedua. Asrul Sani lahir dari keluarga terpandang di sumatera barat, Ayahnya seorang raja yang mempunyai gelar Sultan Marah Sani Syair Alamsyah yang dipertuan Rao Mapat.

Karya Asrul sani sangat banyak dalam penulisan esai, cerpen, puisi, kritik, terjemahan, dan menyutradarai pementasan drama. Selain itu, ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia seni pertunjukan drama/Teater. Ia juga pernah menjabat sebagai direktus Akademi Teater Nasional.

Asrul sani dalam kepenulisan cerita pendek lebih menekankan kepada sindiran kehidupan masyarakat yang mengalami penderitaan oleh aturan-aturan yang dibuat oleh mereka sendiri. Salah satu cerpennya berjudul museum.

Salah satu karya naskah drama yang saya jadikan sebagai bahan untuk pertunjukan mata kuliah pementasan drama adalah MAHKAMAH. Naskah drama tersebut memiliki kesan tersendiri dan kami adaptasi menjadi Pengadilan semu. Sebuah karya yang berisi kritik sosial mengangkat tema kehidupan dan perang batin tokoh utama berhubungan dengan permasalahan sosial yang muncul di masyarakat.

Asrul Sani meninggal pada tanggal 11 Januari 2004 di usia 77 Tahun.

3. Pramoedya Ananta Toer

Tokoh ini sangat terkenal dan memiliki penggemar setia di setiap karyanya. Pram panggilannya lahir di Blora tanggal 06 Februari 1925. Ayahnya dikenal sebagai tokog Institut Boedi Utomo. Karya besar yang sangat dikenal oleh kalangan pecinta sastra adalah Tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, (1980-1988).

Pramoedya telah menghasilkan kurang lebih 50 karya dan banyak yang telah diterjemahkan dalam bahasa asing. Selain itu, ada dua karya pramoedya yang telah difilmkan berjudul Gulat di jakarta dan Midah si Manis Bergigi emas. Pramoedya juga telah mendapatkan banyak penghargaan atas karya-karyanya dari berbagai negara.

Karya karya pramoedya dijadikan pro dan kontra mengenai makna yang terkandung. Karyanya banyak menekankan catatan sejarah dan peristiwa dan itu dianggap sebagai kritik langsung berkenaan dengan beberapa pihak yang kurang berkenan dengan karyanya tersebut. Namun, karya sastra tetaplah sebuah tanda budaya yang menjadi ciri sebuah bangsa.

Pramoedya mengajarkan bagi penulis muda untuk terus semangat dalam menulis walau apapun keadaannya. Menulis dengan jujur berdasarkan ide dan apa yang ingin disampaikan. Pramoedya Ananta Toer seorang tokoh dari Blora yang menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 30 April 2006 di usia 81 tahun.
***---------------------***

Selain tiga tokoh tersebut banyak juga tokoh lainnya yang belum saya tuliskan antara lain; Sitor Situmorang, Rivai Apin, Idrus, H.B Jassin, N.H Dini, Ramadhan K.H, Achdiat Karta Mihardja, Iwan Simatupang, Utuy Tatang Sontani, dan Trisno Juwono.

Tanpa bermaksud mengkhususkan ketiga tokoh tersebut memang dianggap berpengaruh bagi sebagian besar kelompok sastrawan muda. Sekilas penamaan istilah Angkatan 45 di kenalkan oleh Rosihan Anwas dalam Majalah Siasat. Angkatan 45 juga dikenal sebagai pengarang-pengarang yang muncul pada tahun 1940-an. Salah satu hal penting kelompok sastrawan Angkatan 45 telah memberikan pembendaharan baru tentang karya sastra yang mencoba hadir dengan membebaskan karya dari Kaidah dan aturan-aturan tradisional dalam bersajak.

Semoga informasi di atas dapat menjadi bermanfaat dan sebagai bahan saya secara pribadi untuk melatih kemampuan dalam menulis.


Hormat saya,

Penulis.

No comments:

Post a Comment

loading...
//