Puisi Tahun Baru Untuk Siapa - Halley Kawistoro

Latest

Blog Pribadi Sebagai Sarana Informasi mengenai Bahasa Indonesia Berupa Karya sastra Puisi Dan Cerita Pendek. Serta Berbagi Informasi dunia Pendidikan, Umum, kesehatan dan Berita.

10 December 2017

Puisi Tahun Baru Untuk Siapa

Puisi Tahun Baru Untuk Siapa
Oleh : Halley Kawistoro

Api menyala menghitung detik
Siul terompet bersahutan di sekitar perkarangan dan trotoar
Manusia menghitung mimpi yang terlaksana.
Api dan asap menyatu pekat dengan petasan berontak.
Manusia ditanya tentang otak
Atas segala tindak.
Api makan api
Tanah makan tanah
Dibawa angin mengabarkan duka seperti api membara
Membakar nyata di hari tua
Semua akan ditanya tentang siapa? anda di perayaan apa?
Karena agama dan waktu
Seperti tahun baru yang berlalu dengan suara terompet
Seperti gambaran manusia yang layu
Terbakar seperti kayu menjadi abu
Karena merayakan tanpa ragu sesuatu yang tak baku.
(pesan bersama pada desember, 10-12-2017)

Manusia Dan Bajunya
Oleh : Halley Kawistoro

Berwarna dicari untuk dilihat dan diperhatikan.
Bercorak untuk membedakan
Lusuh tak terurus dan tak berbentuk
Dibajukan untuk keindahan mata
Dipandang mempesona manusia
Bajunya tentang apa yang dipakai
Bajunya tentang berprilaku
Bajunya tentang jabatan
Bajunya tentang kehormatan
Bajunya dipakai manusia yang berpikir sederhana
Untuk terlindung terik atau dingin menusuk.
Bajunya dipakai untuk tanda berpikir
Tidak menjadi makhluk kikir
Sampai putih jadi baju terakhir.

Berpijak Di Tanah Membara
Oleh : Halley kawistoro
Mereka telah pergi dari tanah kelahiran
Mencari kehidupan di tanah tak bertuan
Mereka telah datang dengan diam
Memaksa diri untuk mencari sesuap nasi.
Tiada air susu ibunya ketika telah bergulir masa
Tiada pelindung sekokoh ayahnya ketika menjadi kepala keluarga

Pada tanah ini terpijak bara api menyesak dada.
Disebabkan oleh fitnah dan iri semata
Kepada para hamba yang mencari dan bekerja keras dengan nyata
Pada tanah ini yang telah membara
Oleh rasah curiga dan keluh kesah tentang ketidak-bahagiaan
Berpijak di tanah membara ini telah ditulis cerita
Siapa yang berpikir sia-sia dan bekerja nyata.

Semoga ketiga puisi diatas bisa anda nikmati sebagai tanda tentang rasa atau pesan nyata antara kita sesama makhluk bernyawa.
Hormat saya,

Penulis

No comments:

Post a Comment

loading...
//