Memahami Pribahasa Seperti Ilmu Padi Dari Dua Pemikiran - Halley Kawistoro

Latest

Blog Pribadi Sebagai Sarana Informasi mengenai Bahasa Indonesia Berupa Karya sastra Puisi Dan Cerita Pendek. Serta Berbagi Informasi dunia Pendidikan, Umum, kesehatan dan Berita.

24 August 2017

Memahami Pribahasa Seperti Ilmu Padi Dari Dua Pemikiran

Memahami Pribahasa Seperti Ilmu Padi
Salam Hangat dan berbagi...
Penulis kali ini berkesempatan untuk mengajak kalian semua memandang dengan cara yang berbeda atas sebuah pemahaman. Buat kalian yang saat ini berkeluarga. Pasti, tidak asing dengan pribahasa “Seperti Ilmu Padi, Semakin Tua Semakin merunduk atau Semakin Tua semakin Berisi”.
Pribahasa yang bercetak miring tersebut secara awam bisa kita maknai sepintas lalu. Semakin tua, semakin merunduk = artinya orang atau manusia yang sudah berumur pastinya akan menjadi orang yang bijaksana. Tahu akan sesuatu kebaikan, kebenaran dan memiliki sebuah keyakinan yang kuat terhadap yang diyakini nya.
Padi yang menguning
Lalu, kelanjutan nya Semakin Tua, Semakin berisi = kita artikan bersama. padi yang sudah tua atau matang akan berisi padi yang banyak dan siap untuk dipanen. Dari pandangan yang berbeda muncul di masyarakat kita. Seperti ilmu padi diartikan orang/manusia yang berkelebihan akan menjadi orang yang Rendah hati. Bisa juga, Orang atau Manusia yang memiliki ilmu tinggi tidak akan mengumbar kemampuan nya.
Dari pembahasan di atas. Penulis yakin memiliki pandangan yang sama atau pembaca bisa menerima pemahaman tersebut. Saat ini penulis ingin menggaris bawahi Pribahasa Seperti Ilmu padi dari sudut pandang berlawanan.
Era saat ini pribahasa bisa dimaknai berbeda dengan pemahaman awal, yang artinya mengalami perluasan makna dan kajiaan nya pun disesuaikan dengan disiplin ilmu yang berbeda.
Kita bahas yang pertama dari disiplin ilmu Sosial. Pribahasa tersebut bisa kita maknai seperti ini. Manusia yang memiliki kemampuan/kelebihan akan menjadi sosok yang rendah hati. Namun, di era sekarang manusia yang memiliki kemampuan harus menunjukkan apa yang di punya nya. Kenapa? Ya, karena banyak manusia yang tidak memiliki kemampuan atau kelebihan berani menunjukkan dirinya dari beragam bidang. Alhasil, banyak lini sosial yang compang camping ketika orang yang tidak berkompeten mendapatkan pengakuan atas kemampuan yang dia tidak miliki.
Kedua dari disiplin Ilmu ekonomi. Pribahasa tersebut bisa kita maknai seperti ini. Orang atau manusia yang memiliki kekayaan akan menjadi pribadi yang rendah hati. Namun, di era sekarang manusia yang memiliki kelebihan ekonomi. Berdiri tegak, membusungkan dada. Berjalan angkuh. Jangan kan merunduk. Untuk menyapa dan bertegur salam. Ia pun akan memilih-milih siapa lawan bicaranya. Alhasil, muncul kesenjangan sosial.
Penulis ingin melanjutkan lagi dari disiplin ilmu yang lain. Mungkin, di lain kesempatan akan penulis bahas. Baiklah kita akan menarik kesimpulan nya.
Dari dua disiplin ilmu tersebut. Banyak orang atau manusia sudah melepaskan ikatan moral dari amanat yang disampaikan sebuah pribahasa. Alangkah indah apabila dari segi sosial manusia menerapkan nya.orang yang berkualitas menjadi pemimpin dan bisa bermanfaat untuk orang lain.
Selanjutnya, dari ilmu ekonomi. Orang atau Manusia yang memiliki kekayaan menjadi pribadi yang rendah hati. Ia tidak segan untuk merunduk bahkan menjatuhkan bulir padi nya untuk sebuah manfaat bagi yang membutuhka. Sungguh indah nya BERBAGI.
Jadilah Manusia yang bermanfaat. Bagikan sekecil mungkin kebaikan merunduklah walau kau tak berisi. Jadilah pribadi yang selalu rendah hati dan percaya diri.
Sekian... Sampai jumpa lagi di Pembahasan selanjutnya.

Ambil yang baik, kenali yang buruk untuk sebuah kebenaran “ HALLEY KAWISTORO” 24/08/2017

No comments:

Post a Comment

loading...
//