Manusia Makhluk Pelupa Di Kehidupan Sosial - Halley Kawistoro

Latest

Blog Pribadi Sebagai Sarana Informasi mengenai Bahasa Indonesia Berupa Karya sastra Puisi Dan Cerita Pendek. Serta Berbagi Informasi dunia Pendidikan, Umum, kesehatan dan Berita.

24 August 2017

Manusia Makhluk Pelupa Di Kehidupan Sosial

Salam Hormat... buat pengunjung dan pembaca.

Di bawah ini merupakan catatan saya selaku penulis yang pernah di tuangkan dalam media sosial pribadi dan akan penulis bagikan untuk anda semua tentang sebuah filosofi kita sebagai manusia.


B U D I....BU DI. ini BUDI. Sebuah nama yang akrab ditelinga saya ketika mengenyam pendidikan dasar. ternyata kalau diperhatikan kata budi memiliki arti yang baik = akal. Manusia memiliki akal untuk menjalani sejenak kehidupannya di dunia.

Akal yang membedakan kita dengan hewan. Kaitan nya dengan teks judul yang penulis ingin sampaikan adalah bagaimana proses manusia untuk menggunakan Akalnya. Mansiya, kata yang selalu saya kenang ketika penulis duduk membaca sepintas sebuah buku agama islam di bangku menengah pertama...hingga saat ini penulis masih berusaha memahami dengan sedikit akalnya maksud kata tersebut yang berarti "makhluk pelupa". iya...itulah manusia...ketika ia lahir...ia lupa kenapa menangis...ketika besar ia lupa air susu ibunya. ketika ia tua yang ia ingat hanya kematian bukan perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukan. sejenak kita renungkan kembali rekaman-rekaman memori yang bersemayam dalam otak manusia. semua terekam jelas dan lengkap bila peristiwa itu bersamaan dengan perasaan ; sedih, senang, gembira, sakit,marah dan lain sebagainya.

Penulis ingin menyampaikan ada hukum sebab akibat yang terjadi dikarenakan manusia pada kehidupan sekarang telah asyik dengan dunia yang mendampingi (perasaan) terkadang akal yang secara khusus bisa kita gunakan semakin memudar tertutup perasaan yang menggelayuti manusia. contoh; manusia bisa berbuat kriminal ketika ia dikuasai rasa lapar, terdesak kebutuhan ekonomi. manusia bisa melupakan eksistensi nya sebagai makhluk ber-akal ketika ia dicekik oleh segala onak di kehidupannya.

Perkembangan zaman memudahkan orang bersosialisasi dan melupakan makna sebenarnya interaksi sebagai makhluk sosial. Ia Lupa menghormati orang tuanya dengan hanya 'apa kabar', gimana kabarnya, anak mu baik-baik padahal ketika ia lahir orang tuanya sekuat tenaga akan berusaha melindungi anak nya.

Seorang sahabat, bisa berekspresi palsu karena penggunaan alat sebagai penghubung mampu menunjukkan eksistensinya sebagai teman yang selalu hadir "jangan bersedih, kamu tidak apa-apa, aku ada untukmu" berapa kata tersebut muangkin sudah akrab muncul dalam media komunikasi pertemanan.

Dalam ruang lingkup "CINTA" sebuah  yang dimakna kan sebagai  yang diagungkan dalam makhluk sosial dan penulis yakin setiap manusia menempatkan kata tersebut ditempat yang tidak ingin diketahui siapapun karena kata tersebut sudah jelas dan ditampakkan dengan 'niat atau perilaku' manusia itu sendiri. kalaupun ada wujud lain yang nyata dari perasaan manusia semua bisa dimodifikasi tindakan nya dengan penggunaan akalnya.

Alangkah baiknya kalau AKAL selalu dikedepankan dan menjadi dasar pemikiran atas sebuh pertanyaan besar. Untuk apa manusia dilahirkan?. semoga jawaban yang ditemukan dengan pengguanaan akal dan  kita tdak menjadi makhluk pelupa atas peristiwa kita dalam kehidupan SOSIAL.

"KITA TIDAK SENDIRI"

No comments:

Post a Comment

loading...
//